Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Kamis, 28 November 2013
Untuk Kekasihku
Jow,,
Kebersamaan ini harganya tak terkira
Tak semahal sebungkus kacang rebus
Tak semurah sampah
Dulu aku pernah bersama banyak hal
Kesendirian, yang paling sering menemani
Kami sering bernyanyi bersama
Ahh,, hanya lagu itu yang dinyanyikannya
Entah untuk siapa
Kadang aku memusuhinya
Dia terlalu dingin dan penuh cerita sakit
Apa aku menghujatnya?
Ya,, kadang, atau mungkin sering
Hingga suatu ketika, aku pun tersadar
Ketika semuanya menjadi ada dan tiada
Dia selalu menjadi setia
Solo, 28.11.2013
Senin, 20 Juni 2011
Puisi (Cahaya Bulan) - Nicholas Saputra
Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
Pada suatu ketika yang t’lah lama kita ketahui
Apakah kau masih selembut dahulu
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap
Sambil membenarkan letak leher kemejaku
Kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih
Lembah mandala wangi
Kau dan aku tegak berdiri
Melihat hutan-hutan yang menjadi suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin
Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
Ketika ku dekap
Kau dekaplah lebih mesra
Lebih dekat
Apakah kau masih akan berkata
Ku dengar detak jantungmu
Kita begitu berbeda dalam semua
Kecuali dalam cinta
Cahaya bulan menusukku
Dengan ribuan pertanyaan
Yang takkan pernah ku tau
Dimana jawaban itu
Bagai letusan berapi
Bangunkanku dari mimpi
Sudah waktunya berdiri
Mencari jawaban
Kegelisahan hati
*kadang manusia lupa akan hatinya. Lupa tentang dimana 'dia' berada. Adakah manusia masih memiliki hati, meski dia telah sering kali disakiti?*
Pada suatu ketika yang t’lah lama kita ketahui
Apakah kau masih selembut dahulu
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap
Sambil membenarkan letak leher kemejaku
Kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih
Lembah mandala wangi
Kau dan aku tegak berdiri
Melihat hutan-hutan yang menjadi suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin
Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
Ketika ku dekap
Kau dekaplah lebih mesra
Lebih dekat
Apakah kau masih akan berkata
Ku dengar detak jantungmu
Kita begitu berbeda dalam semua
Kecuali dalam cinta
Cahaya bulan menusukku
Dengan ribuan pertanyaan
Yang takkan pernah ku tau
Dimana jawaban itu
Bagai letusan berapi
Bangunkanku dari mimpi
Sudah waktunya berdiri
Mencari jawaban
Kegelisahan hati
*kadang manusia lupa akan hatinya. Lupa tentang dimana 'dia' berada. Adakah manusia masih memiliki hati, meski dia telah sering kali disakiti?*
Langganan:
Komentar (Atom)